Tentukanlah takdirmu sendiri, atau orang lain yang akan menentukannya. Itulah kiranya maksud quote dari Jack Welch, pendiri General Electric. Saya akan mencoba membingkai quote tersebut dalam konteks pemilihan umum (Pemilu) karena beberapa waktu ke depan, kita akan dimabukkan dengan serentetan Pemilu, mulai dari Pemilu Legislatif dan Presiden RI, Ketua MWA dan Rektor ITB, Presiden dan MWA Wakil Mahasiswa (MWA-WM) KM ITB, dan bahkan Ketua Himpunan, Senator, dan DPP HMIF. Walau sebenarnya dalam pemilihan Ketua MWA dan Rektor ITB, mahasiswa tidak memiliki hak untuk memilih secara langsung, melainkan melalui representasi MWA Wakil Mahasiswa.
Pemilu mungkin dapat saya terjemahkan sebagai suatu momen bagi kita untuk menentukan masa depan dengan memilih seseorang yang akan memimpin kita nantinya. Dalam artian lain, memberikan harapan, kepercayaan, dan kepatuhan kita kepada kandidat terbaik. Harapan akan perubahan yang lebih baik. Kepercayaan atas kelayakan dan kapasitas sang kandidat. Kepatuhan terhadap kebijaksanaan yang dihasilkan kandidat jika ia memimpin nantinya. Dalam skala tugas kuliah, forum angkatan, asisten lab, keorganisasian himpunan, kemahasiswaan, berbangsa dan bernegara, dan bahkan dunia sekalipun, tentunya kita sebagai makhluk sosial akan berkelompok dan membutuhkan salah seorang dari kita untuk menjadi pemimpin. Pemimpin tersebut dibutuhkan untuk mengarahkan dan mengkoordinasikan upaya-upaya pencapaian tujuan bersama kelompok kita.
Saat ini demokrasi telah memberikan kesempatan bagi masing-masing kita, untuk menentukan masa depan kita. Yang perlu kita ingat adalah sekalipun hak pilih dimiliki perorangan tapi dampak dari akumulasi hak pilih tersebut akan berpengaruh secara komunal. Sehingga ketika kita memutuskan untuk menggunakan hak pilih ataupun golput, maka konsekuensi yang ada tidak hanya harus diambil oleh diri kita sendiri tapi juga orang lain di sekitar kita. Tentu saja memutuskan hal tersebut bukanlah hal mudah.
Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa dengan golput, kita tidak akan ikut bertanggung jawab jika ternyata Pemimpin yang terpilih tidak amanah. Namun pada kenyataannya, dengan golput, kita telah mempercayai siapapun kandidat yang akan menjadi pemimpin, sekalipun ia tidak layak. Dengan demikian, jika kandidat yang tidak layak tersebut terpilih, maka pemilih golput juga seharusnya bertanggung jawab atas hal tersebut.
Keputusan yang lebih bijak dari golput tentunya adalah menggunakan hak pilih, karena dengan menggunakan hak pilih, kita telah secara sadar dan rasional menentukan pilihan. Asal tentunya tidak sekedar pilih. Ibarat propaganda HIMAFI dalam Pemira KM ITB beberapa tahun lalu, “jangan pilih tai kucing dalam karung”, sudah asal pilih (dalam karung), salah pilih pula (tai kucing). Ckckck.. malang nian..>_<
Oleh karena itu, mari kita gunakan hak pilih kita dengan baik dan benar. Baik dengan mengetahui track record, memahami visi misi dan rencana program kerja, serta berpartisipasi dalam hearing. Benar dengan memberikan pilihan yang tepat secara rasional (disamping intuisi). Kenalilah setiap kandidat yang ada, dengan mengikuti segala kampanye dan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan Panpel, sebelum pada akhirnya kita menggunakan hak pilih kita.
Mari kita sukseskan Pemilu Ketua Himpunan dan Senator HMIF, Pemira KM ITB, serta Pemilu Legislatif dan Presiden RI!! Sehingga tingkat penggunaan hak pilih mendekati 100% atau setidaknya melebihi Pemilu sebelumnya.





